Struktur atau Agen? Manakah yang Mempengaruhi Tindakan?
Teori strukturasi muncul dari kekosongan teori aksi dalam ilmu-ilmu sosial (Giddens, 1979). Isu utama yang diperdebatkan adalah seputar bagaimana konsep-konsep tindakan, makna dan subjektivitas harus dijelaskan dan bagaimana kaitannya dengan gagasan-gagasan tentang struktur dan pengekangan. Jika sosiologi interpretatif didasarkan atas imperialisme subjek, fungsionalisme dan strukturalisme mengetengahkan imperialisme objek sosial. Salah tujuan utama merumuskan teori Strukturasi adalah mengakhiri masing-masing imperialisme ini (Giddens, 1984: 3).
Perdebatan mengenai tindakan manusia selalu ada dan berkembang dalam teori-teori sosial. Teori-teori makro seperti struktural-fungsional dan konflik, misalnya, memberi penekanan pada peranan struktur sosial. Dalam teori-teori ini, tindakan manusia dipandang terutama ditentukan oleh struktur sosial. Talcott Parsons misalnya, menjelaskan bahwa sebuah sistem sosial itu memiliki “kebutuhan” (needs) atau problem yang harus dipenuhi/diatasi agar bisa bertahan, yakni adaptasi (adaptation), pencapaian tujuan (goal attainment), integrasi (integration), serta pemeliharaan pola yang ada dan pengelolaan pertentangan/konflik (latent pattern maintenance) yang biasa disingkat menjadi AGIL. Dalam perspektif ini, maka perilaku atau tindakan manusia dipandang lebih ditentukan oleh struktur-struktur sosial tersebut. Begitu juga dengan konsep “variabel pola” (pattern variables) dari Parsons. Di sini seolah sudah ada pola-pola yang menentukan tindakan manusia baik pada masyarakat yang tradisional maupun pada masyarakat modern. Dengan kata lain, struktur yang “menentukan” tindakan individu (aktor) (Kinseng, 2017).
Di kubu yang lain “sosiologi mikro” seperti simbolik interaksionisme, fenomenologi dan pilihan rasional, menekankan posisi aktor yang bersifat otonom atau mandiri, kreatif, impulsif, dan sejenisnya. Perilaku atau tindakan aktor tidak “didikte” oleh struktur, melainkan ditentukan oleh sang aktor itu sendiri, yang memiliki kemampuan untuk berpikir, menilai, menimbang, dan memilih tindakan apa yang dianggap paling tepat pada waktu dan tempat tertentu. (Kinseng, 2017).
Kunci pendekatan Giddens ialah bahwa ia melihat agen dan struktur sebagai dualitas, artinya keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain (Ritzer, 2014). Giddens menolak untuk melihat struktur semata sebagai pemaksa terhadap agen (seperti Durkheim), tetapi melihat struktur baik sebagai pemaksa maupun penyedia peluang. Teori strukturasi yang dikembangkan Giddens merupakan jalan tengah untuk mengakomodasi dominasi struktur atau kekuatan sosial dengan pelaku tindakan (agen).
Makalah ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kelompok fungsionalisme dan strukturalisme menjelaskan terbentuknya tindakan manusia dan apa saja kritik utama Giddens terhadap asumsi-asumsi tradisi pemikiran kelompok fungsionalisme dan strukturalisme. Tulisan ini juga hendak mengkaji teori strukturasi dan penjelasan asumsi teori tersebut mulai dari konsep dualitas struktur agensi prinsip-prinsip struktural, praktik sosial dsb.
Giddens memulai pikirannya dengan mengkritik Fungsionalisme dan Strukturalisme. Ada tiga (3) kritik Giddens atas Fungsionalisme, pertama, Fungsionalisme menghilangkan fakta bahwa anggota masyarakat bukanlah orang orang bodoh. Individu bukan robot yang bergerak berdasarkan naskah. Kedua, Fungsionalisme merupakan cara berfikir yang mengklaim bahwa sistem sosial mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Ketiga, Fungsionalisme membuang dimensi waktu dan ruang dalam menjelaskan proses sosial. (Giddens, 1984)
Giddens (1979) juga memberikan catatan atas gagasan Levi-Strauss, yaitu (1) struktur bermakna sebuah model yang dibangun oleh pengamat, dan menurut kata-katanya ‘tidak ada sangkut pautnya dengan dunia empiris. Giddens berpendapat struktur memiliki “eksistensi maya”, (2) strukturalisme Levi-Strauss kekurang konsep stuktur sebagai strukturasi, (3) pendekatan Levi-Strauss tampaknya ambigu ketika menganggap struktur sebagai relasi diantara serangkaian unsur atau opisisi simpulan. Giddens tidak memandang struktur, dalam pengertiannya yang paling dasar, merujuk pada bentuk-bentuk himpunan, namun lebih mengacu kepada aturan dan sumber daya, yang dalam reproduksi sosial “mengikat waktu, (4) gagasan tentang struktur yang digunakan oleh Levi-Strauss berkaitan dengan kelemahan dasar, dalam kaitannya penciptaan ruang semantik Praksis. Berbicara secara ketat itu tidak ada sesuatu yang disebut ‘aturan transformatif; semua aturan sosial berciri transformasional, dalam pengertian bahwa struktur tidak termanifestasikan ke dalam empiris aspek-aspek sosial, (5) jikalau struktur hadir (dalam ruang-waktu) hanya dalam wujud sekilas, maka struktur pasti meliputi acuan ke fenomena yang sangat asing bagai upaya Strauss untuk mengatasi formalisme dengan menekankan bentuk sebagai perwujudan isi;fenomena yang berkaitan dengan kekuasaan.
Terkait Strukturalisme, Giddens menganggap Strukturalisme terlalu menyingkirkan subjek (Priyono, 2000:17). Strukturalisme dan Fungsionalisme menekankan secara kuat keunggulan keseluruhan sosial atas bagian-bagian individualnya (Giddens,1984:2). Strukturalisme sangat menentang tradisi Hermeneutik yang dianggap memberi kekuasaan subjektivitas sebagai pusat kebudayaan dan sejarah (Giddens, 1984:2). Begitu juga dengan Fungsionalis, Fungsionalis menentang tradisi sosiologi interpretatif. Sebab, dalam sosiologi interpretatif, tindakan dan makna mendapat posisi utama dalam penjelasan tentang perilaku manusia. Konsep-konsep struktural tidak dianggap begitu penting dan tidak ada banyak pembahasan tentang kekangan. Akan tetapi, Fungsionalisme dan Strukturalisme lebih diutamakan ketimbang tindakan dan sifat-sifat mengekang dari struktur sangatlah ditekankan (Giddens, 1984:2).
Baik Fungsionalisme dan Strukturalisme, jika ditelusuri, akar pikirannya masih kembali ke Durkheim. Walaupun demikian, dalam menyusun Teori Strukturasi, Giddens juga meminjam beberapa terminologi Strukturalisme dan Fungsionalisme. Biarpun teori Strukturasi berusaha mencari titik temu antara hubungan agen-struktur atau makro-mikro, Teori Strukturasi masih bernuansa memberi tekanan pada agen. (Ritzer, 2014).
Teori Strukturasi
Tujuan teori Strukturasi adalah menjelaskan hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur. Dengan demikian, agen dan struktur tidak bisa dipahami dalam keadaan saling terpisah satu sama lain. Agen dan struktur saling menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas manusia. Mereka adalah dualitas (Ritzer, 2014). Aktivitas manusia bukanlah hasil sekali jadi oleh aktor sosial, tetapi secara terus menerus mereka ciptakan ulang melalui suatu cara, dan dengan cara itu juga mereka menyatakan diri mereka sendiri sebagai aktor. Di dalam dan melalui aktivitas mereka, agen menciptakan kondisi yang memungkinkan aktivitas ini berlangsung. Secara umum, Giddens memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktik sosial, struktur, dan kesadaran diciptakan (Ritzer, 2014).
Dalam menyusun Teori Strukturasi, Giddens sedikit banyak berhutang pada gagasan-gagasan Strukturalisme. Hal tampak dalam catatan catatannya Giddens (1979:68-73) atas Strukturalisme, yaitu (1) Teori Strukturalis menunjukkan pentingnya penciptaan ruang melalui perbedaan dalam proses konstitusi bahasa dan masyarakat, (b) pemikiran Strukturalis berupaya memasukkan dimensi waktu ke dalam pusat analisis itu sendiri, (c) pemikiran strukturalis menunjukkan bahwa ‘jarak dalam waktu’ dalam beberapa aspek pentingnya sama dengan ‘jarak etnografis’, (d) Teori Strukturalis menawarkan kemungkinan pemahaman yang lebih memuaskan tentang totalitas sosial daripada yang ditawarkan oleh Fungsionalisme. Menurut Fungsionalisme, masyarakat bisa dipotret sebagai pola hubungan diantara ‘bagian-bagian’, sementara Teori Strukturalis mengajukan gagasan bahwa masyarakat seperti bahasa, sebaiknya dipandang sebagai ”sistem maya’ dengan sifat berulang, dan (e) dalam Teori Strukturalisme ada upaya gerakan untuk melampaui dualisme subjek/objek.
Giddens memperingatkan kita, bahwa struktur tidak hanya bersifat mengekang (constraining), tetapi juga memampukan (enabling). Penekanan pada peran struktur yang memampukan ini merupakan salah satu kontribusi penting dari Giddens dalam teori mengenai relasi antara struktur dan tindakan (Kinseng, 2017).
Giddens berpandangan bahwa dualisme agensi-struktur tersebut merupakan dualisme yang keliru atau false dualism (Sibeon 2004:48). Giddens menghindari penekanan baik pada agensi atau pada struktur, melainkan pada praktik sosial. Giddens mengatakan bahwa: “The basic domain of study of the social sciences, according to the theory of structuration, is neither the experience of the individual actor, nor the existence of any form of social totality, but social practices ordered across space and time” (Giddens, 1984: 2 dan Ritzer, 2008:396).
Menurut Giddens, praktik sosial merupakan kombinasi dari agensi dan struktur; keduanya saling terkait dan tak terpisahkan. Dengan demikian, bagi Giddens, yang benar bukanlah dualisme melainkan dualitas agensi dan struktur. Struktur dan agensi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, bagaikan dua sisi dari mata uang yang sama.Dualitas struktur dan agensi ini diuraikan Giddens dalam teori strukturasinya. Seperti dikatakan oleh Roger Sibeon: In structuration theory the ‘duality of structure ‘ is a concept which insists that agency (or action) and structure are not separate domains, but instead are ‘two sides of the same coin’: the notion of duality specifies that structure is not external to or apart from action – unless structure is currently being practised (or instantiated) by people, it has no current existence (other than as ‘memory traces’ in people’s mind) (Sibeon, 2004:48-49). Giddens mengatakan bahwa “Structures exist in time-space only as moments recursively involve in the production and reproduction of social systems. Structures have only a ‘virtual’ existence” (Giddens, 1995:26 dalam Kinseng, 2017). Jadi, menurut Giddens, struktur itu tidak berada “di luar sana” atau terpisah dari agensi atau tindakan. Struktur hanya ada melalui tindakan manusia. Dikatakan, “structure only exists in and through the activities of human agents” (Ritzer, 2008:398). Tanpa tindakan, struktur hanya ada sebagai “jejak-jejak ingatan dalam kepala mausia saja”. Seperti kata Ritzer, Giddens ‘takes pains to avoid the impression that structure is “outside” or “external” to human action’ (Ritzer, 2008:398).
Struktur sosial mendapat tempat yang istimewa dalam teori strukturasi Anthony Giddens. Giddens membuat definisi struktur agak berbeda dari yang lain. Dalam salah satu tulisannya, Giddens mengatakan “A distiction is made between structure and system. Social systems are composed of patterns relationships between actors or collectivities reproduced across time and space… Structures exist in time-space only as moments recursively involved in the production and reproduction of social systems. Structures have only a ‘virtual’ existence” (Giddens, 1995:26). Apa yang disebut oleh Giddens sebagai “social system” di sini biasanya disebut struktur sosial, namun di sini Giddens tidak menyebutnya sebagai struktur sosial. Giddens mengatakan bahwa “Structures can be analysed as rules and resources”. (Kinseng, 2017)
Kritik bagi teori strukturasi Giddens, antara lain mencampuradukkan unit analisis individu dengan kelompok atau masyarakat secara keseluruhan. Itupun masih tidak benar juga, jika mengikuti definisi struktur Giddens yang mencakup aturan and sumberdaya. Sumberdaya material seperti tanah, pabrik, tambang, dsb jelas bukan hanya ada dalam jejak ingatan. Ia ada secara objektif “di luar sana”. Konsep struktur Giddens ini juga telah dikritik oleh Sewell (Sewell, 1992:10 dalam Kinseng 2017).
kedua elemen antara agen dan struktur tidak dapat dipisahkan (bersifat dualitas), meskipun kedua elemen tersebut memang selalu ada dalam setiap tindakan aktor, dan saling mempengaruhi, namun keduanya tetap dapat dan mesti dipisahkan secara analitik (bersifat dualisme) (Kinseng, 2017). Sejalan dengan pandangan ini, hasil studi Layder dan kawan-kawan juga menunjukkan bahwa tindakan (yang dimaksud adalah agensi) dan struktur merupakan dua aspek yang dapat dipisahkan dan masing-masing mempunyai tingkat otonomi. Mereka mengatakan “Thus we conclude that empirically structure and action are independent (and thus, deeply implicated in each other), but partly autonomous and separable domains” (Layder, Ashton and Sung, 1991: 461). Konsep dualitas struktur-agensi Giddens ini juga telah dikritik oleh beberapa ilmuwan sosial lain, seperti Archer (1982), Sibeon (2004), dan Mouzelis (1995 dan 2008). (Kinseng, 2017).
Dalam kajian di tulisan Syahri (2015) terdapat beberapa catatan Craib atas Teori Strukturasi diantaranya (1) Giddens terlalu memusatkan perhatian kepada tindakan sosial, sehingga kekurangan “kedalaman ontologis”. Artinya, Giddens gagal menerangkan struktur sosial yang melandasi kehidupan sosial, (2) upaya membuat sintesis teoritis tak bertautan secara pas dengan kompleksitas kehidupan sosial. Untuk menjelaskan kehidupan sosial yang sangat kompleks ini, menurut Craib, memerlukan sederetan teori yang mungkin saling bertentangan ketimbang struktur sebuah teori sintesis. Craib menjelaskan bahwa kehidupan sosial yang sangat ruwet ini dan keruwetannya itu tidak dapat dapat dijelaskan secara memadai dengan menggunakan pendekatan tunggal yang secara konseptua rapi seperti Teori Strukturasi, (3) Giddens tidak bertolak dari landasan teoritis tertentu, maka dia kekurangan basis memadai untuk membuat analisis kritis tentang masyarakat modern, (4) teori Giddens kelihatan sangat fragmentaris, tidak berkaitan secara utuh. Pemikirannya yang bersifat sepenggal penggal itu menyebabkan Giddens mengumpulkan penggalan-penggalan teori yang tidak dapat dipersatukan dan diserasikan satu sama lain, dan (5) jika tidak dapat dikatakan mustahil, paling tidak, sukar untuk mengetahui secara pasti apa sebenarnya yang dibicarakan Giddens.
Pustaka
Giddens, Anthony. 1979. Problematika Utama dalam Teori Sosial; Aksi, Struktur, dan Kontradiksi dalam Analisis Sosial. Terjemahan oleh Dariyatno. 2009. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Giddens, Anthony. 1984. Teori Strukturasi Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat. Maufur dan Daryanto, Penerjemah. 2010. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Terjemahan dari : The Constitution of Society.
Kinseng, Rilus. 2017. Strukturgensi: Sebuah Teori Tindakan. Bogor: Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan. Hal 127-137
Priyono, B. Herry. 2000. Sebuah Terobosan Teoritis. Dalam Basis Nomor 02. Tahun ke-49, Januari-Februari 2000
Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Triwibowo. B.S, Penerjemah. Jakarta (ID): Penerbit PRENADAMEDIA GROUP. Terjemahan dari: Modern Sosiological Theory: Seventh Edition. McGraw Hill.
Syahri, Moch. 2015. Anthony Giddens dan Teori Strukturasi. UNAIR: Surabaya
Diringkas oleh:
Galih Andreanto, Kandidat Master Sosiologi Pedesaan IPB
image sources
- social-structure: https://online.york.ac.uk/